Portal Berita

Yayasan Zad Al-Insaniyyah Cipanas

  • 23May,2019

    Darah Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

    Al-Qur’an dan Sains

    Ilmu Seputar Peredaran Darah

     

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat pertama kali dalam Al-Qur’an adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Ayat ini berkaitan dengan perintah untuk membaca. Allah Ta’ala berfirman:

     

    ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

     

    Artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah, (Dia) mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar manusia atas apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 1-5).

     

    Dalam ayat ini Allah mengaitkan ilmu dengan manusia, seakan-akan memberikan informasi penting bahwa hidup manusia dan ilmu tidak terpisahkan.  

     

    Sungguh menarik, dalam ayat pertama kali turun ini, Allah menyebut manusia dari sudut pandang darah. Al-Qur’an memberikan informasi sesuai fakta sains mengenai urutan penciptaan manusia, mulai dari sperma, darah, daging, tulang, dan bentuk tubuh mansia. Akan tetapi kenapa dalam ayat pertama kali ini, Allah menyebut manusia dari sudut pandang darah. Ini memberikan kesan adanya perkara penting dari darah serta kaitannya dengan tubuh manusia. Umat Islam juga perlu bangga karena yang pertama kali menemukan teori sirkulasi darah adalah ilmuan Muslim, bernama Ibnu Nafis. Ibnu Nafis menemukan teori ini 400 tahun lebih awal dari William Harvey. Harvey lalu membawa teori Ibnu Nafis ke dunia Barat, kemudian dia dianugerahi gelar penemu pertama teori sirkulasi darah.

     

    Darah merupakan salah satu komponen tubuh yang memiliki fungsi fundamental dalam kelangsungan hidup manusia. Jika kita pergi ke rumah sakit untuk diperiksa, maka yang pertama kali dicek adalah darah; bukan sperma, daging, atau tulang. Mengapa demikian? Karena darah mengandung hormon, enzim, dan berbagai komponen darah yang mewakili keseluruhan komponen fisiologis tubuh.

     

    Setidaknya ada tiga komponen penting dalam darah, yaitu: Erotrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (keping darah). Biasanya tiga komponen ini yang paling banyak dicek di lab ketika kita sakit. Kondisi kesehatan manusia dapat diketahui dari komposisi darahnya. Bukan hanya sakit biasa, bahkan kondisi  orang sedang stres pun dapat diketahui dari darahnya. Dengan kata lain, darah menjadi gambaran terhadap kondisi seseorang apakah dia sedang sakit atau sehat, sedang stres atau bahagia.

     

    Komponen darah leukosit terdiri atas basophil, eisonifil, neutrophil, limfosit, dan monosit. Komponen-kompenon ini biasa disebut sistem imun dengan fungsi spesifik dan sangat sensitif terhadap respon fisiologis.

     

    Pada dasarnya semua gangguan terhadap tubuh akan berpengaruh terhadap sistem imun. Oleh karena itu, ketika terjadi perubahan dalam tubuh (sakit atau stres), maka kita akan mendapatkan perubahan terhadap komponen darah. Dalam ranah fisiologis kajian mengenai hal ini sudah banyak dilakukan, misalnya penelitian rasio N/L (neutrophil-limfosit) terhadap tingkat stres. Hasil penelitian-penelitian tersebut menjelaskan bahwa semakin tinggi rasio N/L maka semakin tinggi tingkat stres seseorang. Data ilmiah ini menunjukkan betapa pentingnya darah manusia, bahkan menjadi tools penting untuk menggambarkan kondisi seseorang. Mungkin karena itulah, Allah pertama kali menyebut eksistensi manusia disandingkan dengan darah.

     

    Begitulah hubungan manusia dengan darah dalam perspektif Al-Qur’an. Ternyata, darah memegang peran besar menopang kehidupan insan. Wallahu A’lam.

    Penulis: David Anwar

Mari Berdonasi

Jagalah hartamu dengan zakat dan obatilah sakitmu dengan bersedekah

Copyrights © 2019 Yayasan Zad Al-Insaniyyah Cipanas. All rights reserved.